Minggu, Desember 15, 2019

Demam John Grisham

Berawal dari tugas membaca pada mata pelajaran Bahasa Indonesia saat aku kelas 2 SMA. Saat itu kami (5 orang dalam 1 kelompok), diberi tugas untuk membaca & menghapal alur cerita dari buku karya John Grisham berjudul The Chamber (Kamar Gas), terbitan Gramedia. Dengan jalan patungan setiap anggota kelompok, akhirnya bisa membeli buku itu.

Aku lupa persisnya berapa lama waktu membaca lalu kelompok ditanya oleh guru matpel BI, apakah 1 minggu atau 2 minggu setelah pembelian bukunya? Intinya, waktunya tidak cukup lama buat baca buku yang cukup tebal itu. Apalagi buku cuma ada 1 buah dan harus dibaca bergantian diantara anggota kelompok lainnya.

Dan tibalah waktunya, eng...ing...eng...kelompok kami ditanya, teman-teman yang lain dengan lancar menjawab pertanyaan dari pak guru. Masuk giliran aku, pak guru tanya beberapa hal, aku jawab dengan lancar juga...alhamdulillah...tapi, saat akhir sesi, pak guru komen balik ke aku, "Widdi, kamu gak baca bukunya ya...ngarang kamu jawabannya", hahaha...aku garuk kepala...akhirnya ngaku..."Iya pak, waktunya terlalu singkat, tidak cukup lama..."Ah...alasan kamu", sahut pak guru.

Dan disitulah momen, ternyata bakat mengarang dan ngeyel aku terbukti berguna...wkwkwkw....

Sebuah percikan peristiwa, yang dikemudian hari membawa aku untuk mengoleksi buku John Grisham lainnya, selain memang sudut pandang tokohnya selalu menarik dan berkisar pada permasalahan hukum serta terkadang konspiratif juga.

Untuk pak guru Bahasa Indonesiaku, terima kasih atas keterusterangannya, karena tanpa itu, mungkin aku bisa jadi pembohong ulung yang keterusan berbohong...hehehe...

Salam,
Widdi

Sabtu, Desember 14, 2019

Hasrat Membaca

Gairah perlu dibangkitkan, begitu juga keinginan membaca.

Caranya, bacalah buku dengan tema yang kamu sukai. Kalau suka buku novel, mulailah dari situ. 

Saat ini akupun begitu. Aku hanya baca buku yang temanya aku sukai saja. Masa-masa membaca buku "wajib" sepertinya sudah lewat.

Cersil alias Cerita Silat aku suka sekali. Buku-buku karya SH. Mintardja adalah buku "wajib" baca untuk penggemar Cersil.

"Nagasasra & Sabuk Inten" dan "Api Di Bukit Menoreh (ADBM)" adalah masterpiece SH Mintardja. Walaupun untuk ADBM hingga hari ini buku tersebut tidak tuntas, karena sebelum cerita usai, Sang Empu SH Mintardja sudah berpulang ke haribaan penguasa jagat. Dan bagi para penggemar ADBM, kisah akhir karya tersebut banyak beredar dengan beragam versi, yang ditulis oleh para pencinta ADBM.

Wabilkhusus Nagasasra & Sabuk Inten, dulu bapakku punya edisi lengkap bukunya. Namun sayang, karena lokasi penyimpanan buku yang tidak terawat, akhirnya buku hancur menjadi santapan lezat rayap. Sedih...

Dan tanpa lupa menyebut juga nama Kho Ping Ho termasuk legenda pada tema buku Cersil ini.

Buku "Senopati Pamungkas" juga menyeruak di media tahun 90-an. Sebagai salah satu masterpiece karya Arswendo Atmowiloto. Dan kalau tidak salah, pada rezim orde baru, buku ini juga sempat dilarang terbit. Dan mengalami kejayaan cetak ulang pasca reformasi '98. Mengambil kisah setting tumbangnya Kerajaan Singosari dan berdirinya Kerajaan Majapahit, buku yang cukup tebal namun sangat menarik ini, patut menjadi rujukan bagi penggemar Cersil.

Untuk kategori Cersil, terus terang aku tidak bisa melakukan rangkuman cerita. Karena ketiga karya Cersil tersebut sangatlah mengasyikkan untuk dibaca. Jadi, lebih baik dibaca sendiri, dari awal hingga akhir.

Khusus untuk Nagasasra & Sabuk Inten serta ADBM, buku ini dapat diakses secara gratis di webpage yang tersebar di dunia maya. So, monggo cek sendiri ya guys. Hehehe...

Mau asyik belajar sejarah bangsa. Ya....salah satunya dengan membaca Cersil. Karena buku-buku tersebut dibuat dengan mengambil setting zaman kerajaan masa lalu. 

Cara inilah yang juga dipakai oleh negara-negara maju untuk mengajarkan sejarah bangsa untuk warganya.

Contoh, buku karya Eiji Yoshikawa. Empunya cerita dengan tema Samurai Jepang, masa berkuasanya para Daimyo, Pra Restorasi Meiji. Kisah Musashi atau Taiko atau Heike, untuk menyebut karya Empu Yoshikawa. Sejarah pergulatan Jepang menuju bangsa maju dan modern, ditulis dengan indah pada karyanya tersebut.

So, mulailah membaca dari yang kamu sukai. Mudah-mudahan momentum kontinuitas membaca bisa didapat.

Salam,
Widdi

Ini Tentang Momentum

Momentum itu penting. 

Tindakan seseorang terkadang dipengaruhi waktu dan faktor lingkungan pembentuk awal.

Contohnya, saat masuk bulan puasa Ramadhan, fokus seseorang menjadi lebih di sektor religiusitas. Sesungguhnya, itulah momentum.

Belum lagi momentum hari raya keagamaan, pebisnis memanfaatkan ini guna mendulang laba. Banjir diskon, cuci gudang atau apapun istilahnya. Sejatinya, itulah waktu yang tepat mengambil keuntungan dari momentum.

Lalu, momentum apa yang menyebabkan manusia bernama Widdi ini menyukai buku?

Pertanyaan ini bisa terjawab dengan membalik waktu hingga puluhan waktu ke belakang.

Saat sekolah SMP & SMA aku tinggal di rumah mbah. Mbah Kung termasuk kategori pembaca tekun. Puluhan buku koleksi beliau, mau tidak mau tidak luput dari sentuhanku. Walaupun, koleksi si mbah mayoritas buku- buku bertema agama. Tapi, paling tidak ini menjadi momentum awal pembentuk kesukaanku pada buku.

Masa SMA, aku rada mbandel sitik...hehehe...hobbyku telat sampai sekolah, wkwkwk...harus membawaku berkenalan akrab dengan guru BP. Pada waktu itu jika telat, diberikan 2 pilihan, mau pulang atau bisa tetap sekolah tapi setengah waktu jam belajar harus mondok dulu di perpustakaan sekolah. Ok...karena aku pemberani...hehehe....pilihan mondok dulu di perpustakaan aku pilih. Walaupun pada waktu itu, koleksi buku di perpustakaan sekolah tidak up to date, paling tidak aku mendapat energi momentum dari situ. Dan hingga detik ini, doa syukur aku haturkan kepada para guru BP di SMA. Terima kasih bapak/ibu. Ah...mbrebes mili aku tuh jadinya...

Lulus SMA, reformasi '98 pecah di Indonesia. Rezim orba tumbang. Kegiatan di kampus- kampus bergairah kembali. Ribuan judul buku yang semasa rezim orba dilarang terbit, laksana banjir bandang, buku-buku tersebut bermunculan di toko-toko buku. Euforia membaca tumbuh kembang. Grup-grup diskusi kembali muncul terang-terangan. Bergabunglah aku ke salah satu organ eksternal kampus bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), aku seperti menemukan teman-teman yang juga suka membaca, senang diskusi serta berdebat perihal tema sebuah buku. Masa yang sangat menarik.

Nah...momentum-momentum itulah yang membentuk aku sekarang. Dan aku selalu bersyukur atasnya.

Salam,
Widdi

Jebakan Bibliomaniac

Dalam setahun di seluruh dunia, mungkin ada ribuan judul buku baru.

Dari ribuan judul itu, pasti akan ada yang masuk kategori "Best Seller".

Bagi aku, label best seller menjadi penting dan menjadi rujukan dalam membeli buku.

Celakanya, label buku best seller biasanya mendongkrak harga jual. Lebih mahal ketimbang judul buku lain yang kategorinya "biasa" saja. 

Lalu apa triknya jika kamu ngebet banget pengen punya buku itu? 

Pertama, coba masuk ke website para reviewer yang sudah membaca buku tersebut. Apakah sejatinya buku tersebut layak menyandang predikat "Best Seller" atau tidak. Ya...bisa jadi parameter awal deh, akan lanjut beli atau tidak.

Kedua, browsing harga buku tersebut ke beberapa toko online. Bandingkan harganya disitu. Dan cari buku original ya guys. Apple to apple. Jika nemu yang cocok dengan harganya, masukkan terlebih dahulu ke folder wish list kamu deh. Ya...syukur-syukur sudah ada dana cukup, jadi bisa langsung beli.

Ketiga, jika dana belum cukup, sabar beberapa waktu, biasanya harga buku bisa turun dalam beberapa bulan ke depan. Sabar adalah kunci guys. Hehehe...

Keempat, jika hasrat membaca kamu sudah benar-benar di ubun-ubun dan harus segera baca, ya coba melipir ke perpustakaan umum terdekat atau langsung ngebut ke perpustakaan nasional. Hehehe....pinjam bukunya disana deh (mudah-mudahan buku incaran sudah masuk katalog disana). 

Kelima, jika kamu bergabung dalam sebuah komunitas membaca, nah...mohon kebaikan teman-teman disana, untuk bisa meminjamkan buku tersebut. Dan jika dapat, maka kamu bisa lupakan step pertama sampai keempat diatas. Hehehe....

Salam,
Widdi



Berusaha (mulai) Lagi

Siang teman,

Terasa sudah tahun 2019 akan berakhir. 

Banyak hal yang terjadi, sejak aku terakhir menulis di blog ini. 

Pertanyaan yang selalu muncul saat menulis disini, apakah nanti ada jiwa lain yang akan membacanya? Jujur, aku tidak peduli. Tujuanku menulis, tidak berharap ada yang membacanya malah. 

Lho, aneh? Memang. Hehehe...

Menulis bagiku cuma aktualisasi saja. Biar tidak cepat pikun. Memang umurmu berapa mas? Kok sudah ngomongin pikun. Ya...tahun 2020, tembus 40 tahun keberadaan di planet ini. Mbuhlah...jika nanti reinkarnasi hidup di planet lainnya. Hehehe....

Blog sederhana ini, memang aku peruntukkan untuk diriku sendiri. Egois kamu mas. Biarin. 

Entahlah...sepertinya tahun depan, aku akan berusaha keras menghidupkan blog ini lagi. Mungkin sudah saatnya aku aktif menulis lagi.

Mungkin berubah wujud jadi "book blogger", mungkin saja. Tunggu nanti ya.

Salam,
Widdi

Rabu, Desember 16, 2015

Berasa Tua

Malam kawan,

Ah...waktu, aku makin merasa tua.

Helai rambut putihku makin rimbun. Harus dicat hitam lagi ? Buat apa mengingkari waktu. Bagi yang mengerti, rambun memutih itu, punya nilai filosofis yang besar sekali. Apa ? Saat warna memutih, artinya, sudah waktunya meninggalkan dunia hitam, yang punya persepsi, jahat, nakal, ngawur, masuk menuju wilayah putih, yang sering digambarkan dengan sesuatu yang, baik, banyak pengalaman dan asosiasi kebaikan lainnya.

Ngomongin uban nih ? Hehehe.

Karena dikepala masih ada warna hitam, ngawur-ngawur sedikit ndak apa-apa ya.

Aktifitas menulis (walaupun sekarang hakikatnya mengetik), lebih lancar jika dilakukan pada malam hari. Kenapa begitu ? Karena disaat malamlah, jiwa-jiwa yang paham, membuka dirinya, dan melakukan aktifitas introspeksi. Terdengar agamis ? Ah...bukan. Belum level saya masuk wilayah cadas itu. Hehehe.

Malam, saat dimana jiwa bersedekap memeluk benak. Berbincang intim pada dirinya. Menilai waktu yang lewat, menentukan langkah kedepan. Malam, serasa mahal. Bagi jiwa yang paham.

Ah...waktu. Tak terasa anakku beranjak besar. Adik-adik sepupu mulai serentak menyebar undangan pernikahan. Ah...waktu. Lekas sekali kau pergi.

Serasa waktu tanak begitu cepatnya.

Tak sanggup aku meninjau waktu, karena itu bukan wilayahku.

Salam,
Widdi

Rabu, Oktober 28, 2015

Nah...yang pekok siapa ?

Pagi teman,

Rasanya sudah berabad lalu, kita berjumpa, bertukar salam, menyapa dalam tulisan. Ah...waktu berjalan cepat sekali. Laksana kereta Shinkansen atau Euro Train. Lebay sedikit tak apa ya :-))

Abad 21...seperti adanya saat ini, menyajikan banyak hal yang serba cepat. Cepat informasi, cepat perjalanan, cepat macet, cepat saji, cepat cerai...eh...intinya semua yang cepat, ditasbihkan untuk abad ini.

Aku tertarik untuk coba serius sedikit pada bahasan perihal informasi. Bukan mau sok tahu macam futurist Alvin Toffler atau maestro ekonomi macam Soemitro Djojohadikoesoemo, yang menarik dari keduanya, sudah memprediksi hal-hal penting dimasa depan, diantaranya sebagai abad teknologi dan informasi serta pertarungan perebutan sumber daya alam, selaku faktor utama, jika ingin diingat sejarah, sebagai pemenang.

Beragam informasi, dari mulai melek mata hingga menutup mata, bukan game over ya maksudnya, macam banjir bandang menerjang, mau informasi apapun pasti tersedia. Nah...logikanya jika banjir, mengandung unsur apa ? Mayoritas ? Ok...air...tapi untuk subyek tulisan ini, bukan itu....yup...kamu betul teman....sampahlah jawabannya.

Banjir informasi jelas juga mendatangkan sampah informasi. Dari yang mulai nama kerennya, Hoax...atau yang sedikit parah, menjurus arah fitnah. Dan, terus terang, aku menyaksikan banyaknya informasi yang masuk kategori ini. Dan, hebatnya lagi, informasi ini dengan santainya seliweran didepan mata kita dan yang meyebarkan berita itu, mungkin akan bangga dengan hasilnya.

Aku tidak akan memperpanjang dan menunjukkan, mana info yang benar dan mana yang KW. Silahkan nilai sendiri.

Satu subyek lain, yang cukup mengganggu, adalah hujatan serta kurangnya rasa memiliki dan kebanggaan pada tanah air republik ini. Bagaimana Indonesia mau mengejar kemajuan bangsa lain, jika masih banyak penghuni tanah ini yang mempunyai penilaian menganggap tanah pijakannya ini, lebih rendah dari bangsa lain ?

Kurang apa negeri ini memberi ? Udara yang dihirup, tanah yang dipijak, air yang dihisap setiap detiknya, nafkah mata pencaharian yang didapat, tapi, apa balasnya ? Jawabnya, PENGHINAAN.

Nah...kalau sudah begini yang pekok siapa ?

Negeri ini laksana Ibumu sendiri, Ia melahirkanmu, merawat, mendidik, mendewasakan, mencerahkan, tapi apa balasnya ? PENGKHIANATAN.

Nah...kalau sudah begini yang pekok siapa ?

Negeri ini masih banyak masalah, yup, itu betul sekali. Tapi jika respon setiap individu yang numpang hidup disini hanya mengeluh dan mengeluh, apakah bisa solusi itu datang ? Omong kosong.

Nah...pilihan tinggal mengeluh atau beraksi.

Salam,
Widdi






Selasa, November 11, 2014

Kotak Pemikiran

Malam teman,

Lebih dari setahun lalu sejak gue terakhir, menatap tekun layar monitor, mensinkronkan tekanan jari di keyboard, serta mengkoordinasikan isi otak yang nanti berujung pada sebuah tulisan runtut yang maunya ringan, nyaman dan bermanfaat saat dibaca nantinya.

Alasan saja, kelelahan dipersoalkan. Lebih tepatnya malas sih.Padahal membuat satu tulisan yang sederhana sekalipun, bisa menjadi terapi ampuh bagi jiwa yang kelelahan tadi. Bukan fisik ya. Karena gue yakin, semua berawal dari pikiran. Lo yakin lelah, maka fisik lo akan mengiyakan.Sebuah tulisan, juga bisa menjadi tolok ukur, lo masih waras atau nggak. Nggak percaya ? 

Konsistensi seseorang juga bisa dilihat dari kualitas serta plot arah ide yang mau dibuat.

Tulisan juga bisa menjadi parameter ampuh, apakah seseorang itu masih seperti dulu, alias tidak berubah arah karakternya.

Ditulisan ini gue juga akan tidak berusaha ikut pada plot ideal, mana ide, dan mana konklusi. Karena itu sebenarnya tidak perlu dipetakan alias dijabarkan. Biarlah persepsi masing-masing, dari orang yang mau baca tulisan ini yang nantinya menjawab.

Seperti layaknya perkumpulan hobi, bisa dipastikan isinya orang-orang yang punya kesenangan yang sama. Senang baca, kumpul dengan para pembaca. Senang olahraga, kumpul dengan para olahragawan. Dan seterusnya.

Akhir-akhir ini, juga ada golongan hobi baru, yang menganut paham nyinyirisme, sudah pernah tahu ? Kalo belum tahu, lo pasti kurang piknik. Apa perlu gue terangkan apa artinya itu ? Kayaknya gak perlu ya, silakan pikir dan cari tahu sendiri ya. Lebih menarik, sekaligus menantang pastinya.

Selamat istirohat.

Salam,
Widdi

Minggu, Februari 27, 2011

Kudunye Tertib Kelola

Pagi tadi, dengan berkendara motor, berangkatlah kami bertiga, aq, ibu, andra, menuju Pasar Bekasi.

Terakhir kali visit ampe ngubek-ngubek dalem Pasar Bekasi di medio 2004, well, walaupun gw tinggal di bekasi, gak terlalu banyaklah kepentingan ato urusan keseharian gw yang harus nuntut sampe harus ke Pasar Bekasi.

Tapi, enam tahun ternyata waktu berjalan lambat di pasar ini, masih tetep becek, lalu lintas semrawut, pedagang juga semaunya naroh dagangannya. Intinya, gak ada perubahan signifikan yang bisa dilihat di Pasar terbesar di Kota Bekasi ini. Malah, jalanan yang tadinya lebarnya mungkin sekitar 8-10 meteran sekarang sudah menciut tersisa cuma pas buat lewat motor atau becak doang.

Mau parkir kendaraan saja, lo kudu taroh di penyedia jasa penitipan motor yang ada di pinggiran pasar, kalo gak ada ni tempat penitipan motor, yakin, gw tadi pagi pasti bakalan langsung cabut balik pulang ke rumah lagi.

Jangan pernah kepikiran buat ngeliat sistem klusterisasi items seperti di Supermarket ato Hypermarket modern, gak ada sistem pengelompokkan pedagang, semua serba semrawut. Lo bisa liat penjual sayuran di deket deretan penjual daging, ato lo bisa nemuin penjual makanan di deket kios pedagang plastik dan lainnya.

Yah...kalo kondisi pasar tradisional kita macam begini semua, gak usak aneh juga kalo bakalan ditinggal para pembeli ato dilibas jaringan market yang modern, jauh...kemane-mane. Pedagang kecil gak ada yang bela.

Andra baru masuk ke dalem kios-kios udah tutup hidung n mulut pake tangannya. Ditanya sama Ibunya, "kenapa Ndra ?", jawab Andra, "Aku mual bu, pusing, ama baunya". Nah..."Cepetan bu belanjanya, aq gak tahan nih", desak Andra.

Melihat fenomena seperti ini, gw yakin ini terjadi di banyak pasar tradisional yang bertebaran di seantero nusantara, tidak semuanya begitu memang, tapi, yakin, mayoritas kondisi manajerial pengelolaan pasar tradisional seperti itu semua.

Zaman berubah cepat, pembeli sekarang lebih rewel, cerewet, minta pelayanan maksimum, dengan tuntutan kalo bisa membayar minimum.

Adakah evaluasi yang kontinue dari para penyelenggara negara, dari salah satu jenis pelayanan publik, seperti Pasar Tradisional ini misalnya ? Hanya tuhan yang tahu mungkin.

Salam,
Widdi

Kamis, Januari 20, 2011

Racun Fitnah

Pernahkah anda terkena racun fitnah dalam perjalanan hidup selama ini ? Semoga tidak pernah.

Idiom bahwa “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” boleh jadi benar adanya. Mengapa ? Karena fitnah itu mempunyai “kekuatan” mengakhiri “hidup” seseorang, ya, bisa menghancurkan mata pencaharian, memutus hubungan persaudaraan, memenggal ikatan pertemanan dan lainnya.

Motivasi awal dari fitnah biasanya muncul dari iri hati, terhadap prestasi seseorang. Atau bisa juga, demi mencari-cari kesalahan orang lain.

Pelaku fitnah, bisa dari teman kerja, keluarga, tetangga atau malah mungkin orang yang tidak dikenal sama sekali. Bisa jadi, kurang gawean, kurang ilmu, lemah hati, lemah jiwa, lemah syaraf atau mungkin lemah syahwat.

Yah...kalo kurang gawean, carilah aktifitas lain yang lebih produktif, yang kurang ilmu, bisa memperbanyak baca buku. Lemah hati, rutinitas sedekah bisa membantu, hitung-hitung tambah amal, sekaligus mengasah empati serta simpati terhadap sesama. Untuk yang lemah jiwa, bisa menambah jam ibadahnya, mungkin isi kepala jadi ikut lurus. Buat yang lemah syaraf, harus banyak berdoa kali ya, mungkin waktu di dunia sebentar lagi berakhir. Nah....yang lemah syahwat, rajin-rajinlah olahraga, mungkin ada kesempatan bisa sembuh.

Anggaplah si mahluk fitnah ini anda hitung sebagai lucu-lucuan aja, karena anda harus kasihan buat si penyebar, mereka pasti gak punya teman, rejeki seret, doa gak dikabul-kabulin.

Trus, kalo anda kena fitnah, apa yang anda lakukan ? Balas lagi dengan fitnahkah ? Gak perlu lah, kalo anda kerjakan itu, artinya anda gak lebih baik dari si pelaku fitnah. Karena aktifitas fitnah, dekat dengan si Iblis, nah...anda gak maukan berteman dengan Iblis juga. Saran gue sih, anda doain aja yang “baik-baik” buat si pelaku. Semoga mereka bisa berubah, kalo kagak, anda bisa percaya, katanya, doa orang yang dizalimi lebih manjur.

Salam,
Widdi

Jumat, Januari 07, 2011

Kamis, Januari 06, 2011

Apa artinya ?

Demi menjawab keingintahuan banyak orang perihal nama andra yang dibelakangnya tertera “Kundera”, okelah, aku coba pertanggungjawabkan alasannya disini, he...he....

Nama “kundera” itu memang tidak umum, bukannya cuma kepengen beda atau tidak pasaran, semata-mata bukan itulah latar belakangnya.

Sebenarnya “Kundera” itu adalah sebuah singkatan. Kok begitu ? Ya, maklum aku senang berteka-teki. Misterius sedikit boleh dong.

Asal kata “Kundera” merupakan gabungan beberapa kata, yang kalo dipisah-pisah, akan begini jadinya.

Ketika Usaha Nyata Dibalas dEngan Rahmat Allah.

Ah, itu sih cuma gothak gathuk mathuk, istilah wong jowo.

Well...setiap orang berbeda, dan punya penilaian yang berbeda juga, silahkan saja.

Tapi, sebuah nama adalah juga sebuah doa, pengharapan orangtua untuk si anak.

Aku memutuskan Andra diberi nama itu, dengan maksud, bahwa anak ini harus memiliki jiwa serta semangat “Progressive Revolutioner”, pekerja keras, pantang menyerah, berusaha konkret / nyata pada semua hal. Gusti ora sare, tuhan tidak tidur, yakinlah, moso ada hambanya yang mau bekerja nyata, lalu tidak diberi sedikitpun rahmat-Nya. Gak mungkin kan ?

Kalo kemudian ada juga yang menghubungkan nama Kundera pada seorang penulis berkebangsaan Ceko, Milan Kundera, ya ini boleh juga lah. Inspirasi bisa datang dari mana sajakan ?

So, begitulah alasan singkat latar belakang nama kundera, semoga doa dan pengharapan ini, atau apapun namanya itu, bisa menjadi sebuah hasil nyata seiring dengan usaha yang konkret pula. Tanpa itu, semua hanya bakal semu, dan kehilangan makna.

Salam hangat,
Widdi

Rabu, Januari 05, 2011

Fase Kedua

Lima tahun sudah AP sebagai institusi bisnis mengarungi “dunia persilatan” yang dipenuhi para jawara pilih tanding.

Rentang masa, ketika pilihan hidup masing-masing personel benar-benar harus berbenturan dengan banyak kepentingan.

Sebuah komitmen teguh akan kerja keras serta kepercayaan akan potensi masing-masing individu sedikit banyak membungkam “suara-suara minor” di awal perjalanan panjang ini.

“Ah...paling hanya bertahan 3 bulan”

“Modal lo apa, dana aja masih ngemis kanan kiri”

Hanya sebagian kecil contoh, hambatan-hambatan yang menurut kami, tidak penting itu.

Karena yang terpenting bagi kami, AP menjadi sebuah wahana pembuktian diri akan sebuah semangat pantang menyerah, sebuah laboratorium pengujian akan ramainya teori-teori bisnis yang diperoleh dibangku sekolah formal, sebuah wahana berdebat, berselisih pendapat namun semua demi kebaikan AP itu sendiri.

Jelas sudah, dukungan dari lingkar terdekat masing-masing personel menjadi kunci penting eksistensi kami ini, tak ada yang lain.

Saat kami tersungkur, jatuh berdebam, berarti kami sedang diajarkan oleh Sang Pemilik Hidup untuk belajar bangkit. Aku percaya itu.

Tahun 2011 masehi ini, AP masuk pada fase kedua “kehidupannya”, sebuah fase yang kami jabarkan, sebagai masuknya “Periode Kedewasaan”.

Dewasa berpikir, dewasa pula bertindak, mengambil keputusan penting dengan cepat namun tetap hati-hati dan waspada, gak mudah lho, untuk bisa terbiasa seperti ini. Bukan apa, fakta bahwa AP pun pernah tersungkur, ditipu rekan bisnis, jelas, sedikit banyak meniup angin trauma, tapi, hidup kudu jalan terus, tidak bisa hanya satu peristiwa harus menghentikan seluruh rangkaian kehidupan.

Secara pribadi, aku mengucapkan rasa terima kasih yang luar biasa besar, kepada para pak bro, yang memberikan kepercayaan yang demikian kuat, bahwa layaknya sebuah pernikahan, harus siap masa duka dan suka, tak ada juga hal-hal yang disembunyikan, transparan, apa adanya.

Selamat masuk pada 5 tahun kedua, semoga kebaikan selalu beriringan dengan langkah kita. Amien.

Salam hangat,
Widdi

Rabu, Februari 18, 2009

SUMBU PENDEK

Istilah yang biasa gw dan kawan-kawan pergunakan, saat mendeskripsikan karakter reaksioner, mudah marah, mudah tersulut emosinya, bahkan terkadang marahnya tidak punya dasar yang jelas. Kekanak-kanakan, mungkin begitu istilah yang tepat. Yah….kayak anak kecil, kalo dilarang beli permen, merajuk, atau meronta-ronta ndak karuan.

Contoh kejadian pagi kemarin, ada request dari klien, walaupun feeling udah ngomong, vendor ini gak punya tuh barang, yah…namanya usaha, gw pencet deh…nomor telp nya dari yellow pages, eit…langsung nyambung, setelah gw perkenalkan diri berikut nama perusahaan gw, beralih lah langsung ke topik utama, spek dasar barang yang lagi gw cari, gw lempar ke doi, ternyata spek yang gw punya masuk kategori custom alias barang gak umum, bukan standar. Nah…gw tanya ulang, “ Ibu, dengan spek dari saya, kira-kira bisa disediakan tidak, bahkan jika indent sekalipun ?”, gw udah lembut, intonasi gw, juga slow, pelan, eh…..gila nih orang, jawabnya malah marah-marah, “Bapakkan cuma butuh 1 atau 2 pcs kan, principal saya ini perusahaan besar pak, mana mau mereka layanin pembuatan cuma 1 atau 2 pcs !!!”, jawab gw santai, “Oh…begitu ya bu”, “ngomong-ngomong kalo spek standar yang anda stok saat ini, harganya berapa ya ?”, teuteup dengan intonasi gw yang slow, tanpa diduga, nih, orang turunin intonasi dia, mungkin tenggorokan doi jadi sakit kali ya, “1,1 jt pak”, oh….gitu ya, jawab gw, masih teuteup datar aja. “Baiklah, terima kasih atas informasinya, pagi Bu”.

Padahal, request yang ada ditangan gw, itu jumlahnya 20 pcs, yah…..tinggal dikali aja, berapa potensial omset dia yang pagi kemarin bakal melayang. Langsung nih vendor, gw coret selamanya dari list vendor gw. Padahal pengalaman gw, principal manapun saat ini, mereka juga lagi rindu order,. Kenapa gw bisa bilang begini ? Karena kantor gw juga handle merk global dari luar. En…principal gw gak pernah nolak, berapapun qty dari produk yang mau diorder.

Kenapa gw gak balik serang nih Ibu kemaren pagi ? Weit….kemaren pagi, gw berangkat dengan kondisi perut full, mood gw jg lagi Ok. Gw gak mau dong, kalo gw ngejabanin nih Ibu, wah….mood gw bakal ikutan drop, ini yang gak kepengen, masih banyak PR yang kudu gw selesain ntu hari.

Mungkin masih banyak contoh kejadian, yang kawan-kawan alami sendiri. Jadi, tetaplah fokus, tetap semangat, semoga ada pencerahan buat kita semua hari ini.

Salam hangat,

Widdi

Kamis, Januari 29, 2009

Sesuatu Dari Masa Lalu

Hi Kawan,

Benar apa yang disampaikan oleh salah satu teman baik saya beberapa tahun lalu, "untuk seseorang yang pernah bergumul dan masuk dalam pusaran ranah politik atau paling tidak pernah jadi seorang aktivis, panggilan idealisme itu pasti akan selalu datang, dipaksa untuk menjauh juga tak akan bisa", jika harus dibuang, itu sama saja menegasikan sebagian dari tubuhmu, mengamputasi isi benakmu, dan menjadikan dirimu, secara total apatis, terhadap kemungkinan datangnya perubahan"

Fren, kamu banyak benarnya. Gila............., padahal aku sudah menghindar sedapat mungkin tidak membaca atau menonton acara sirkus politik di koran atau TV, nyatanya memang tidak bisa kabur dari realitas.

Kamu mungkin masih ingat, saat perdebatan dulu, harus tetap dijalan atau balik ke kampus, ternyata pilihan kita tepat ya, disaat gelombang mayoritas tetap eksis dijalan, kita balik ke kampus, artinya bisa balik nulis, artinya bisa balik menjadi seseorang yang bisa bermanfaat. Walaupun pada akhirnya "Manhaj Al Fikr" juga harus kandas, karena setelah lulus masing-masing punggawa sibuk dengan pilihan-pilihan pribadinya, tapi tak apalah, menurutku “Manhaj Al Fikr” sebagai wahana pendewasaan berpikir dan betindak sudah berhasil memancangkan ambisinya.

Walaupun jika kita reuni ulang, wacana penghidupan “Manhaj Al Fikr” tetap menjadi prioritas, tapi untuk saat ini, jalan sejarah kita belum menuntun untuk kesana.

Qon, Zul, Gus, Zi, ingat pada janji kita dahulu, “Sampai ketemu pada persimpangan arah vertikal, tidak hanya eksis pada pergerakan horizontal”

Semoga ada garis tangan kita pada persimpangan vertikal.

Salam Hangat,

Widdi

Rabu, Januari 14, 2009

Entah kenapa ???

Hi Kawan,

Entah kenapa, Andra suka banget dengerin lagu ini.

"PEARL JAM : LAST KISS"

Dengerin bareng-bareng yuk... Mungkin karena di awal, ada kata seperti, "owe....owe..." mungkin dianggapnya, suara bayi.

Salam,
Widdi

Memori Semesta 2

Hi Kawan,

Masih ingatkah kamu, siapa orang yang pertama kali memperkenalkan kamu kepada, buku, lagu/musik, film, kegilaan akan olahraga, atau mensyukuri indahnya langit bebas atau betapa asyiknya naik bis umum ? dan beribu kebiasaaan positif lainnya ? Yang pada akhirnya, membentuk kepribadian serta karakter dirimu yang special ?

Jika aku yang ditanya, wow…. Aku harus melompati cakrawala waktu puluhan tahun kebelakang.

Buku

Mungkin kebiasaaan membacaku, tumbuh dari kondisi beruntungnya aku, lahir dalam sebuah keluarga besar, yang sedari awal menghargai arti penting sebuah buku / majalah / Koran.

Mbah kakungku, memiliki banyak stok buku yang setiap saat bisa diakses siapapun, kapanpun, dari sinilah aku bisa mengenal banyak sosok besar Islam, maklumlah diperpustakaan “si embah” buku kategori agama dan sejenisnya, yang menjadi mayoritas.
Sedangkan Papa, doi mah…pecinta buku silat totok. “Naga Sasra Sabuk Inten”, “Api di Bukit Menoreh”, Cuma salah satu koleksinya. Walaupun saat ini, buku-buku ini, entah hilang kemana. Tidak sempat aku selamatkan.

Lagu / Musik

Well….ini yang asyik, pengaruh arus musik yang mampir ketelingaku begitu beragam. Mulai jaman Pakde, Paklik, Buklik, terentang dari yang irama musikalisasi-nya slow, sampe yang nyanyi teriak-teriak gak jelas, dan terangkum dalam beragam jenis karakter musik. Luar biasa…..

Olahraga

Gak perlu berpanjang, seluruh keluarga hobi berat aktifitas fisik. Pengaruh paling kentara, jelas, ini keluarga “GIBOL”. Gila Bola.

Jaman dahulu, aku begitu menikmati perjalanan diatas bis, terutama yang bertingkat (masih ada gak ya, bis begini ??? ), apalagi saat aku, baru bisa baca, sampai papa & mama, capek nyautinnya, apa aja aku tanyain. Rute mana yang dipilih ? bebas. Tidak terikat. Sepertinya, ini menurun ke Andra, saat ini, apa saja, Andra Tanya ke Aku atau Ibunya.

Aktifitas mengasyikannya lagi, perkenalan aku kepada bangunan yang namanya “Museum” atau “Taman Makam Pahlawan” atau “Planetarium” atau “Bioskop”, dan beragam tempat lainnya. Dan jelas, aktifitas ini, memperkuat kepercayaan diri, menambah jam terbang aku sebagai seorang anak dalam masa pertumbuhan, kebiasaan seperti ini, secara tidak sadar, juga sudah aku turunkan kepada Andra.
Betapa luarbiasanya pengaruh ini, hingga aku pernah berkeinginan keras, untuk menjadi “arkeolog” (ini mungkin juga ada karena pengaruh tontonan film “Indiana Jones”) atau obsesi aku yang tak berkesudahan akan alat yang namanya “teleskop” atau maniaknya aku akan buku bertemakan sejarah.

Nah kawan, pastilah memori masa lalu, ternyata, berpengaruh besar, terhadap apa yang sudah kita capai hari ini dan apa saja hal-hal yang mau kita rebut di masa depan.

Salam Hangat,
Widdi

Jumat, November 14, 2008

Apa esensimu ?



Hi Kawan,

Terlalu lama untuk tidak menulis, efeknya hasrat mengering, otak tambah tumpul, logika mandek, kalau sudah begini jadi teringat nasihat beberapa tahun silam dari mentorku.

Nasihatnya, “cobalah untuk bisa menulis setiap hari, walaupun Cuma satu kalimat”, aku Tanya, “Memang kenapa harus begitu”?, jawabnya “biar kamu tidak lupa esensi menjadi seorang manusia”

Waktu itu, aku tidak menanyakan lebih detail, apa maksudnya nasihat itu, mentorku pun bisa menangkap gelagat ketidakmengertian diriku, tapi makna itu tetap tersimpan rapat dibenak.

Mungkin dia pikir, biar aku sendiri saja, yang berusaha menafsirkan apa makna mendalam dari nasihat itu.

Ya Mas, pertanyaan itu masih berlaku hingga detik ini.

Apa esensi diriku ? Apa hanya untuk berfungsi mengumpulkan capital setiap harinya ?

Waktu bergulir dengan cepatnya.

Apa esensi dirimu Kawan ? Ayo...merenung sejenak....

Salam,
Widdi


Senin, April 14, 2008

Perihal Nama

Perihal Nama

Awalnya sih, gak terlalu aku pikir. Seorang teman, setelah bolak-balik halaman koran, kasih komen, “Jaman sekarang, kok, orang Indonesia, kasih nama ke anaknya, pake berbau barat segala”.

Kontan aku, jawab aja, “Apa di Indonesia masih banyak ketemu orang, yang bisa dijadikan panutan ?, Jika ada, mesti, para orangtuanya, memberikan nama, persis sama dengan orang besar tersebut.”. Contohnya mas, nama “Muhammad”, berapa juta orang di dunia ini yang pake nama tersebut, mengapa ?, karena nama “Muhammad” memang pantas untuk dijadikan panutan, atau bahasa Bekasi-nya “Role Model”.

Percakapan kecil yang hingga saat aku mengetikkan ini, masih terekam secara sempurna dibenakku.

Aku berpendapat, hasil pendidikan di Indonesia, saat ini, hanya mampu bergulir pada tahapan “Transfer of Knowledge” belum masuk pada fase “Transfer of Value”, karena prasyarat untuk bisa masuk ke fase “Transfer of Value”, harus ada orang yang dijadikan panutan/role model, entah cara bersikap, berpikir maupun bertindak.

Apakah di Indonesia, masa saat ini, mudah ditemukan “sosok ideal”, yang pantas dijadikan “panutan” ? Boleh jadi, jika seorang anak ditanya, “siapa acuan kamu dalam berpikir dan bertindak ? Jika jawabannya bukan anda, sebagai orangtuanya, janganlah kaget. Karena mungkin, saya atau anda, belum pantas untuk bisa menjadi “sosok ideal”, anak-anak masa depan Indonesia.

Salam,

Widdi

Senin, Maret 17, 2008

Boedoet - sepercik ingatan

Boedoet - sepercik ingatan

Saat masuk ke Boedoet, sekolah ini berada pada titik terbawah, dalam hal prestasi.

Legenda Boedoet yang pernah aku dengar dari Bapakku, Oom, Tante, kakak sepupu, terasa menguap saat kaki melangkah masuk gerbang Boedoet.

Reputasi sebagai sebuah sekolah favorit para calon murid maupun orangtuanya, berkat beragam prestasi serta nama baik yang ditorehkan baik secara regional maupun nasional, pada saat aku masuk, terasa berlebihan.

Boedoet yang ada dibenakku, ternyata tidak sama dengan apa yang aku lihat nyata saat itu (1995). Torehan prestasi gemilang yang telah dituliskan oleh para pendahulu/kakak kelas, hanya bisa dilihat pada onggokan piala atau medali yang terkesan kusam, berdebu karena jarang dibersihkan.

Kondisi ini bisa dilihat jika, kita masuk ke ruang kepala sekolah atau ruang perpustakaan.

Di ruang perpustakaan, bahkan kondisi dari piala, plakat atau medali ini bahkan lebih mengenaskan. Ada piala yang terhempas jatuh ke lantai, teronggok dihimpitan lemari buku, berlumur debu.

Sebuah kondisi yang jelas, pada saat itu, menjungkir balikkan apa yang ada dibenakku, atas kejayaan prestasi yang telah ditulis dengan tinta emas oleh para pendahulu.

Boedoet tahun ’95, tidak ada lagi semangat perjuangan, loyo, kehilangan gairah, sesuatu hal yang jauh dikemudian hari, baru dapat aku bumikan dibenakku. Boedoet di tahun ’95, melanggengkan jalur kekerasan, tawuran antar pelajar setiap hari ( ini pasti, 3 kali sehari kayak minum obat dari dokter). Akibatnya siswa, setiap hari, berada dalam kondisi psikis tertekan, depresi, stress, efeknya sampai sekolah tidak ada lagi konsentrasi, energi hilang dijalan, antara mempertahankan diri atau terlukai.

Validitas data ini bisa dicek, dengan teman-teman yang lain, bahkan pada medio ’95 hingga ’98, frekuensi tawuran antar pelajar di Jakarta, bisa dibilang, menghiasi hampir seluruh media massa, baik cetak maupun televisi. Korban jatuh bergelimpangan, banyak yang tewas mati konyol ataupun mengalami cacat seumur hidup.

Dengan kondisi seperti itu, apa yang bisa diharapkan dari para siswa untuk sumbangsih pada nama besar Boedoet ?

Bahkan pada medio itu (‘95-‘98), nama Boedoet harus tercoreng akibat deraan kasus dugaan korupsi yang diduga dilakukan oleh Kepala Sekolah. Aku menghitung paling tidak ada 3 kali penggantian kepala sekolah saat itu (Pak Sudarno, Pak.............., aku lupa namanya, karena beliaupun hanya menjabat sekitar 3 Bulan, untuk kemudian digantikan oleh Pak Arifin).

Kasus, yang akhirnya membuat vakum kegiatan belajar mengajar hingga 2 Minggu (kalau tidak salah) waktu itu aku masih kelas 2. Hebatnya lagi, karena begitu seringnya kita demo, menuntut transparansi kasus itu, serta mundurnya Pak Kepsek, kasus ini juga yang menempatkan status Boeodet, di Majalah Hai, sebagai predikat “Sekolah Terdemo”.

Bukannya prestasi diujung pena, malah prestasi di lembaran kain atau kertas demo.

Kemunduran besar-besaran akan prestasi Boedoet, terjadi akibat pemberlakuan rayonisasi. Apakah benar begitu ? Bisa jadi. Karena di buku 50 tahun Emas Boeodoet (terbitan ’96), hal ini pernah disinggung didalam tulisan beberapa guru.

Berita akibat tawuran pelajar terutama yang melibatkan siswa Boeodoet, sudah lama tidak beredar di media cetak. Semoga ini bisa menjadikan awal yang baik, buka lembaran sejarah baru, buat tulisan dengan tinta emas, putus rantai kekerasan, Semoga juga menjadi modal dasar untuk Boedoet, mampu melangkah ringan ke depan, tanpa melupakan yang pahit demi mencapai kejayaan akademik selanjutnya.

Dirgahayu Boeodoet, Dirgahayu Sekolahku.

Salam,

Widdi (’98, 1-7, 2-5, 3 IPS 2)